happyhan-ps4.blogspot.com

Minggu, 19 Mei 2013

Perbedaan Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

       Pengambilan suatu keputusan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Begitupun dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus mengambil keputusan apakah seorang siswa harus mengulang materi tertentu, apakah seorang siswa pantas naik kelas atau bahkan harus tidak lulus. Untuk mendapatkan keputusan yang tepat, diperlukan informasi yang memadai tentang siswa, seperti penguasaan mereka terhadap materi, sikap dan perilakunya sehari-hari. Dalam konteks inilah, evaluasi memegang peranan yang cukup penting. Dengan demikian, bila guru dapat melakukan evaluasi  secara baik maka dapat dipastikan ia memiliki kemampuan mengajar yang baik.
DARI :http://www.masbied.com

Perbedaan Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi

Untuk menjiadi guru yang baik, maka harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang evaluasi karena pembelajaran dan evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk menelusuri lebih dalam tentang evaluasi, penilaian, tes dan pengukuran, mari kita simak uraian berikut.
A.     Pengukuran, Tes, Penilaian, dan Evaluasi
 1.     Pengukuran
Pengukuran merupakan cabang ilmu statistika terapan yang bertujuan untuk membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik, valid, dan reliabel. Reynolds, et al (2010:3) mendefinisikan pengukuran sebagai sekumpulan aturan untuk menetapkan bilangan yang mewakili objek, sifat atau karakteristik, atribut atau tingkah laku. Pengukuran memiliki beberapa karakteristik yakni, (1) merupakan perbandingan antara atribut yang diukur terhadap alat ukurnya, (2) hasil pengukuran bersifat kuantitatif, (3) hasil pengukuran bersifat deskriptif, tanpa berusaha menginterpretasikan hasilnya secara lebih jauh.
2.     Tes
Tes dipandang sebagai salah satu alat pengukuran yang berbentuk satu set pertanyaan untuk mengukur pengetahuan peserta tes.Dalam hal ini, objek pengukuran berupa atribut psikologis dan sampel perilaku yang tampak dapat diukur secara tidak langsung melalaui tes. Cronbach (Reynolds, et al. 2010:4) membagi tes menjadi dua kelompok yakni tes performansi maksimal (tes domain kognitif) dan jawaban tipikal.
Dalam satu perangkat tes, harus berisi stimulus-stimulus berupa pertanyaan yang disusun secara sistematis. Pertanyaan dan arah jawaban harus benar-benar dapat difahami oleh siswa, sebab jawaban siswa berkaitan dengan kemampuan kognitifnya yang bisa benar juga bisa bernilai salah.
Tes performansi maksimal terbagi atas dua bagian yakni tes kecepatan dan tes kemampuan. Tes kecepatan bertujuan untuk mengukur kecepatan siswa dalam mengerjakan tes yang ada, memuat lebih banyak butir soal dengan tingkat kesulitan yang relatif rendah. Sedangkan tes kemampuan bertujuan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa secara terperinci. Tes kemampuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan tes dengan waktu yang relatif panjang, mencakup butir-butir soal dengan kesulitan yang bervariasi, diurutkan dari yang mudah sampai dengan soal yang paling sulit.
3.     Penilaian
Penilaian diawali oleh pengukuran.  Penilaian merupakan prosedur yang sistematis, mencakup kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi (hasil pengukuran) untuk membuat kesimpulan tentang objek yang diukur.
Beberapa hal yang menjadi prinsip penialain adalah ; (1) penialaian tidak boleh terlepas dari proses pembelajaran, (2) penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar, (3) penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dan tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotorik).
Tujuan penilaian meliputi : (1) untuk menelusuri jalannya proses pembelajarn, (2) mengecek adanya kelemahan-kelemahan yang dialami siswa selama pembelajaran berlangsung, (3) mencari hal-hal yang menyebabkan kesulitan siswa dalam belajar, dan (4) menyimpulkan penguasaan siswa atas kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan.
4.     Evaluasi
Evaluasi dipandang sebagai tindakan untuk menetapkan keberhasilan suatu program. Evaluasi diawali oleh proses pengukuran dan penilaian. Selanjutnya, interpretasi dari hasil penilaian dapat bersifat evaluatif apabila disandarkan pada suatu kriteria tertentu. Gronlund & Linn (1990:12) menggolongkan evaluasi ke dalam empat kelompok yakni sebagai berikut.
a)     Evaluasi penempatan
Digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa di awal pembelajaran. Evaluasi ini digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ; (1) apakah siswa telah memiliki pengetahuan awal yang diperlukan untuk memulai pembelajaran? (2) seberapa jauh siswa menguasai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah direncanaka, (3) seberapa jauh minat siswa, kebiasaan bekerja, dan karakter personalnya di dalam kelas ?
b)     Evaluasi formatif
Digunakan untuk memantau kemajuan belajar siswa selama pembelajaran, yakni guna memberikan umpan balik kepada siswa maupun guru terkait dengan keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan.
c)     Evaluasi diagnostik
Digunakan untuk mendiagnosis berbagai kesulitan siswa selama pembelajaran serta merumuskan rencana tindakan remediasi untuk siswa.
d)     Evaluasi sumatif
Digunakan untuk mengevaluasi prestasi siswa di akhir pembelajaran. Tujuannya penggunaannya adalah untuk menetapkan nilai suatu mata pelajaran atau menyatakan tingkat penguasaan siswa atas materi yang diajarkan.
B.    Pengetahuan Tentang Penilaian yang Harus Dikuasai oleh Guru
Hal-hal penting yang harus difahami oleh guru dalam penilaian pendidikan adalah sebagai berikut.
1.     Guru harus mampu memilih prosedur penilaian yang tepat.
Kompetensi ini penting diketahui agar guru dapat mengenali ruang lingkup prosedur penilaian yang ada di sekolah dan jenis-jenis informasi yang diberikan dengan penggunaan prosedur yang berbeda.
Guna membuat keputusan yang tepat dan informatif, guru harus memiliki kemampuan dalam menempatkan, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi secara teknis berkaitan dengan pengembangan tes.
2.     Guru harus memiliki kemampuan mengembangkan prosedur penilaian yang tepat.
Untuk memenuhi kriteria ini, guru harus memahami tentang prinsip-prinsip dan standar dalam mengembangkan teknik-teknik penilaian, mengkonstruk butir soal, menyusun pilihan jawaban, serta kemampuan dalam mengevaluasi instrumen penilaian yang digunakan.
3.     Guru harus memiliki kemampuan dalam melaksanakan, melakukan penskoran, serta menafsirkan hasil penilaian yang dibuat.
Dalam hal ini guru harus mampu memahami prinsip-prinsip tes baku dan siap melaksanakan testing dengan cara yang baku pula, mampu melakukan penskoran dengan benar, mampu menginterpretasikan skor berdasarkan patokan penialaian tertentu.
4.     Guru harus memiliki kemampuan menggunakan hasil-hasil penilaian untuk membuat keputusan-keputusan dalam bidang pendidikan.
Dalam hal ini, guru harus memahami konsep reliabilitas dan validitas suatu alat ukur, sehingga mampu menginterpretasikan hasil pengukuran dengan benar. Guru juga harus bisa memahami dan dapat mendeskripsikan implikasi dan keterbatasan hasil penilaian serta menggunakannya untuk meningkatkan prestasi anak didiknya.
5.     Guru harus memiliki kemampuan mengkomunikasikan hasil-hasil penilaian.
Secara rutin dan berkala, guru harus melaporkan hasil penilaian siswa kepada orang tua siswa, pihak sekolah dan pihak lain yang berkepentingan dalam hal ini. Oleh karena itu, guru harus bisa menggunakan istilah-istilah penilaian secara benar, memahami format skor yang berbeda, dan mampu menjelaskan makna dan implikasi dari hasil penilaian.
 C.    Sifat-sifat Penilaian Pendidikan
Berikut ini disajikan beberapa sifat penilaian pendidikan yang diadopsi dari  Cohen dan Swerdlik (2002).
1.     Terdapat konstruk psikologis pendidikan.
Konstruk merupakan bentuk sederhana dari atribut karakteristik suatu tes yang didesain untuk mengukur. Contoh : prestasi merupakan suatu konstruk yang merupakan pengetahuan seseorang atau pencapaian pada bidang tertentu yang diterima sesorang setelah mengikuti pembelajaran. Contoh lainnya meliputi ; intelegensi siswa dan sikap siswa.
2.     Meskipun konstruk dapat diukur, namun hasilnya tidak sempurna.
Walaupun para ahli penilaian yakin bahwa mereka dapat mengukur aspek psikologi siswa, mereka juga mengakui bahwa proses pengukurannya tidak sempurna. Hal ini disebabakan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah validitas instrumen dan teknik analisis hasil pengukuran yang keliru. Istilah lain dari hal ini adalah kesalahan pengukuran.
3.     Terdapat berbagai macam cara untuk mengukur suatu konstruk.
Misalnya seorang guru melakukan penilaian pada siswa pada mata pelajaran matematika, dengan beberapa cara seperti tes tertulis, penugasan, penilaian kemampuan, dan portofolio. Teknik penilaian yang beragam tentu memiliki karakteristik yang unik, berbeda antara satu dengan lainnya. Penggunaan teknik penilaian bergantung dari tujuan penilaian dan konstruk yang akan dinilai.
4.     Semua prosedur penilaian memiliki kelebihan dan kelemahan.
Para ahli mengakui bahwa masing-masing prosedur penilaian memiliki kelemahan dan kelebihan. Suatu pendekatan penilaian mungkin menghasillkan reliabilitas skor yang tinggi, namun pendekatan ini tidak dapat mengukur beberapa aspek dari konstruk sebagaimana pendekatan lainnya yang menghasilkan reliabilitas skor yang lebih baik. Akibatnya penting bagi guru untuk memahami kelebihan dan kekurangan secara khusus yang dimiliki oleh tiap prosedur penilaian.
5.     Berbagai sumber informasi seharusnya menjadi bagian proses penilaian.
Dalam melakukan penilaian, seharusnya melibatkan informasi dari pendekatan yang berbeda. Keputusan yang benar, seharusnya tidak didasarkan pada salah satu prosedur penilaian saja.
6.     Penilaian dapat dilakukan dengan cara yang adil.
Penilaian yang adil merupakan penialaian yang dilakukan dengan instrumen yang valid dan reliabel. Dengan dua syarat ini, maka hasil pengukuran menjadi objektif dan benar-benar menggambarkan keadaan objek pengukuran yang sebenarnya. Dengan demikian, akan memungkinkan penilai dapat mengambil suatu keputusan yang tepat tentang konstruk yang diukur.
Baca juga tentang Membuat Rumusan masalah Penelitian dan Peranan Pendidikan dalam Pembangunan
Regards,

makani iwak